Kamis, 27 September 2012

CERPEN ~ SAHABAT SELAMANYA


Senja yang dulu indah sekarang seakan tak berarti lagi pada seorang gadis yang sedang merenung karena telah kehilangan sahabat-sahabatnya yang slalu menemani suka maupun duka. Dulu sewaktu aku duduk di bangku SMP aku mempunyai 4 sahabat sejati. Mereka bernama nara, regina, fara dan riva. Kami bersahabat sejak pertama kali menginjak bangku SMP. Kami berlima selalu bersama-sama kemana pun kami pergi. Sampai-sampai teman-teman kelasku memanggil kami dengan panggilan “Lima serangkai”. Sampai-sampai anak-anak lain mungkin iri melihat kami berlima yang slalu akur dan ceria.
Hari ini hari kenaikan kelas. Tapi tuhan berkata lain aku dan 4 orang sahabat aku tidak satu kelas, sekarang aku kelas 8e, rifa 8f, fara, regina dan nara sama-sama 8h. Tetapi hal tersebut tidak memisahkan kami semua, kami tetap kompak dan setiap jam istirahat kami selalu berkumpul di taman belakang sekolah. Di sana kami biasa bercanda gurau, saling curhat atau tidak kami saling belajar bersama.
“eh..aku lagi PDKT sama kakak kelas nih” ucap nara memecah kesunyian kami semua
“wah siapa..siapa..? ganteng gak? Hahaha” kami semua tertawa
“ya lumayan, tapi aku gak suka ah..dia itu playboy”
“wah bahaya..gimana kalau aku teror itu kakak kelas ? aku mau buktiin dia itu playboy atau tidak” tawarku kepada nara.
“ya tentu saja boleh, ini nomernya aku kirimi ke kamu ven. Pacarin kamu juga boleh, hehhe” ucap nara meledekku.
Setelah nomer handphone kakak kelas itu aku save, yang ketepatan namanya adalah kak indra, kami semua melanjutkan canda gurau kami semua sampai –sampai bunyi bel masuk kelas pun berbunyi. Kami semua segera masuk ke kalas kami masing-masing.
Sepulang dari sekolah aku langsung pulang ke rumah, merebahkan tubuh kecilku ini di atas kasur bersprai orens di kamarku. Setelah cukup lama bersantai, iseng-iseng aku SMS kak Indra itu yang ketepatan dia se ekskul denganku, ekskul basket.
“hai..” salam pembukaku yang aku kirimkan ke kak indra
“hai, ini siapa?” tak lama balasan dari kak indra datang
“emb..ini kak indra?” aku melalukan ini karena aku hanya ingin menguji kesetiaan dia
“iya, ini siapa ya?”
“aku vena kak, ABAS juga sama kayak kakak”
“oh .. gitu, iyaiya dek, ada apa ?”
Setelah selesai berbasa-basi, aku pun melanjutkan ke rencana tadi kalau aku ingin menguji kesetiaannya. Ternyata terbukti dia itu SETIA, dia mengakui bahwa dia naksir ke nara sahabatku. Aku dan kak indra saling nyambung kalau SMSAN, dan jika bertemu kami pun sudah sangat akrab. Lain halnya dengan nara yang jika bertemu pasti malu-malu.
Hingga pada suatu hari, setelah aku dan kak indra telah lama mengenal satu sama lain dan sepertinya kak Indra sudah tidak menyukai tiara lagi karena sifat tiara yang selalu menghiraukan dia. “adek.. kakak suka sama adek, adek mau gak pacaran sama kakak?” ucap kak Indra saat istirahat ekskul
“hah? Jangan bercanda kak, kamu tiaranya gimana?” jawabku tidak percaya
“loh apa hubungannya dengan nara? Tiara gak suka sama kakak dan kakak juga tidak suka lagi sama nara”
“emmb.. tak pikir-pikir deh kak, kasih aku waktu 2 minggu”.
Di perjalanan pulang aku kepikiran terus akan hal yang terjadi padaku, tanpa banyak berfikir lagi, aku langsung menanyakan kepada nara akan perasaan dia kepada kak indra.
“ah yang benar saja, aku engga suka sama kak indra. Kalau kamu merasa cocok sama kak indra, yasudah gakpapa kok kamu pacaran sama kak indra”
Mendengar ucapan nara begitu, aku sangat gembira, karena aku merasa cocok kepada kak Indra. Dan aku sudah bulat untuk menerima kak Indra sebagai cowokku.
Tetapi semenjak aku jadian dengan kak indra, aku semakin jauh dengan 4 orang sahabatku. Tak tau mengapa jika istirahat tiba dan aku ingin berkumpul dengan mereka d belakang sekolah, mereka selalu saja menghidar dan bubar seketika. Aku sadar aku yang salah karena aku sering pacaran di depan kelas dengan kak indra daripada aku bermain dengan sahabat-sahabatku.
Setahun, dua tahun telah berlalu. Hubunganku dengan 4 orang sahabatku tak tau bagaimana karena kami tetap saja berdiam diri. Sedangkan hubunganku dengan kak indra tetap berlanjut hingga kini walau dia sudah menginjak SMA. Besok adalah perpisahan kelas 9. Aku akan melanjutkan sekolah di surakarta, dan tentunya akan berpisah dengan sahabat-sahabatku yang mungkin sudah tidak menganggapku sahabat. Aku berniat untuk meminta maaf kepada sahabat-sahabatku yang sejuta kalinya.
Saat aku akan menemui 4 orang sahabatku, tetapi aku hanya bertemu dengan 3 orang sahabatku di dalam gedung perpisahan. Yaitu regina, fara, dan riva. Mereka bertiga sudah memaafkanku, malahan mereka menangis karena akan berpisah denganku. Kecuali nara, aku mencarinya di setiap sudut gedung acara perpisahan ini tapi tidak ku temukan nara. Akhirnya aku mencoba mencari ke tempat parkir kendaraan. WOW!!! Apa yang aku lihat di tempat parkir sungguh mengagetkanku dan ketiga sahabat aku yang ikut mencari nara. Di tempat parkir, nara dan kak indra pacarku, mereka berpegangan tangan dan saling menatap, wajah mereka sangat dekat miris akan berciuman.
Aku yang melihat kejadian itu tak tau akan berkata apa, air mataku menetes perlahan mengikuti detak jantungku yang berdetak tak karuan.
“dek, kamu jangan salah paham” kata kak indra sambil mengejarku
“salah paham apa?” jawabku dengan sok tegar
“ven, maaf ya aku sama kak indra masih saling sayang. Kamu harus bisa menerima realita kehidupan ini, dan ini lah hidup” saut nara dengan santai seperti biasanya dia menghadapi masalah
“oh iya udah gak papa, yasudah mumpung kalian ada di sini semua, aku mau pamit..aku akan melanjutkan SMA di Surakarta, selamat tinggal” jelasku sambil meninggalkan mereka ber-5
Regina, fara, dan Riva terpaku melihat kejadian itu, hingga mereka bertiga tidak sadar kalau aku meninggalkan mereka semua.
“jahat!!!” kata regina perlahan sambil menunduk dan melangkah meninggalkan nara dan Kak Indra.
Melihat kejadian tadi, nara dan kak Indra tidak merasa bersalah atas apa yang telah mereka perbuat. Mereka berdua, kak Indra dan nara langsung meninggal gedung perpisahan walaupun acara belum selesai.
Mereka berdua langsung gonceng berdua menaiki motor kak Indra, aku yang hanya menangis melihat mereka berdua dari jendela gedung.
Acara perpisahan telah selesai. Aku dan ke 3 sahabatku saling mengucapkan salam perpisahan dan saling berkangen-kangen karena tidak akan bertemu lagi beberapa tahun ke depan.
Di perjalanan pulang aku melihat ambulance mengebut dari arah timur gedung perpisahan. Perasaan hatiku yang campur aduk, aku menghiraukan bunyi sirene ambulance itu dan mengalah pada ambulance.
Sesampainya di rumah, aku sudah di tunggu oleh kedua orang tuaku. Yang akan segera menuju bandara. Langsung pun aku bergegas berganti pakaian dan masuk ke mobil. Di sepanjang perjalanan aku hanya menatap ke luar jendela, mencoba menatap hari esokku besok di Sukarta.
Saat pesawat yang aku tumpangi sudah hampir take off, yang pada saat itu aku akan mematikan handphoneku, tiba-tiba handphone ku berbunyi ada telfon. Ternyata telfon itu dari Regina sahabat aku. Segera aku mengangkat telfon itu, dan ternyata itu kabar buruk ! Regina mengabarka bahwa kak Indra dan Nara mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang dari gedung perpisahan. Saat itu pula aku langsung turun dari pesawat, tak peduli pesawat itu akan segera take off, dan meninggalkan kedua orang tuaku di pesawat. Melihat raut wajah kedua orang tua ku dari kejauhan di luar pesawat yang tampaknya mereka khawatir terhadapku, pasti mereka bertanya-tanya ada apa denganku !
Segera aku berlari menyusuri panjangnya jalanan bandara, dan secepat kilat aku langsung menaiki taxi dan menuju rumah sakit dimana kak Indra dan nara di rawat. Sesampainya di rumah sakit. Terlihat suasana tidak mengenakkan. Semua sahabat-sahabatku ada di rumah sakit itu, juga keluarga Nara dan kak Indra. Mereka semua menunggu kak Indra dan Nara sadar.
15 menit, 30 menit dan akhirnya 45 menit kemudian dokter membuka pintu dan mengabarkakn bahwa mereka berdua baik-baik saja. Hanya saja di tangan kanan Kak Indra retak dan di bagian tubuh lainnya hanya luka-luka ringan. Dan segera kami melihat keadaan Nara. Syukurlah Nara tidak seburuk kak Indra, Nara hanya mengalami luka-luka ringan di tangan dan kakinya.
“loh..bukannya kamu tadi sudah ke Surakarta ven ?” kata Nara lemas yang mungkin dia kaget melihat aku ada di segerombolan orang yang menjenguknya.
“iya, demi kamu dia ninggalin pesawatnya !” kata Riva dengan nada ingin menyadarkan Nara
“emmb.. maaf semua bisakah tinggalkan aku dan Iven berdua saja ?” kata Nara
Semua orang yang awalnya banyak, ada orang tua, dan sahabat Nara. Kini di ruangan 8×6 itu hanya ada aku dan Nara dengan saling tatap-tatapan. Aku bisa melihat di matanya penuh penyesalan
“kenapa kamu gak ke Surakarta ?” kata Nara memulai pembicaraan
“tadi sebelum take off, aku menerima telfon dari Regina kalau kau dan kak Indra kecelakaan”
“kenapa kamu datang ke sini? Kenapa ?! apa kamu ingin melihat aku mati ! karena aku telah menyakitimu !” seduh Nara sambil menangis dan memukul-mukul dadanya
“tidak Nara ! tidak ! aku disini karena mengkhawatirkan kau Nara ! karena kau masih dan akan tetap menjadi sahabat kami SELAMANYA !” ucapku sambil memegangi tangan Nara agar tidak menyakiti dirinya sendiri,
“apa iya aku pantas jadi sahabat kalian setelah apa yang aku lakukan padamu ?!” kata Nara tak henti-hentinya menangis
“tidak Nara itu bukan salah kau ! itu salahku ! malah apa pantas aku masih menjadi sahabat kau setelah dulu aku sering meninggalkan kalian daripada bersama kalian ? dulu aku hanya mentingin pacaran, jadi.. apa pantas aku tetap menjadi sahabat kau ?
Setelah mengucapkan kata itu, Nara mendadak mimisan. Aku tau kalau dia masih dalam keadaan labil, maka aku putuskan untuk meninggalkan dia di kamarnya bersama dengan kedua orang tuanya.
Namun aku harus tetap mengejar keinginanku, dua hari kemudian aku segera menuju Surakarta karena aku tau kini keadaan Nara dan kak Indra sudah baik-baik saja.
setahun telah berlalu, aku termenung menatap luar jendela kelasku. Mengingat bahwa sekarang 17 Mei 2012 adalah ulang tahun persahabatan aku, Regina, Fara, Nara dan Riva yang ke 5 tahun. Aku tak tau mereka masih mengingat atau tidak. Karena kami sudah tidak ada hubungan lagi semenjak itu. Mungkin mereka ber-4 sudah lupa kepada ku dan mereka pastinya sudah menemukan sahabat yang lebih senpurna daripada aku.
“kriingg..” bel pulang berbunyi. Aku segera bergegas pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, rumahku sangat sepi, yaaa memang seperti biasanya sepi karena kedua orangtuaku sibuk bekerja setiap hari.
“supriesss … !” ada sesuatu mengenai rambutku, yaitu kertas yang di potong kecil-kecil. Segera aku menoleh ke arah atas, dan ternyata “OMG”.. Nara, Regina, Fara dan Riva ada di rumahku ! ternyata mereka tetap mengingat hari ulang tahun persahabatan kami. tak kuasa aku menahan air mataku, dan kami ber5 pun saling berpelukan satu sama lain. Dan berjanji akan menjaga persahabatan ini sampai akhir hayat nanti…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar